Informasi Terbaru :
Home » » Negara dengan Pertanian Terbaik

Negara dengan Pertanian Terbaik

Thursday, February 26, 2015 | 0 comments

Di era modern ini, kita memang telah mengenal teknologi pertanian yang telah di kembangkan di berbagai negara. Tiap negara berlomba-lomba untuk terus mengembangkan teknologi pertaniannya agar tidak kalah saing dan lebih baik lagi dalam memajukan pertanian masing-masing. Berusaha untuk menjadi nomor satu, baik di dalam maupun di luar negeri
Berikut ini adalah 4 negara dengan pertanian terbaik beserta ulasannya.

1. Jepang

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/09/13801201314167577.jpg




http://media3.washingtonpost.com/wp-srv/photo/gallery/091105/GAL-09Nov05-3026/media/PHO-09Nov05-186215.jpg
Siapa yang tidak mengenal Jepang. Negara yang dijuluki Negara Seribu Sakura yang menawan ini ternyata memiliki pertanian yang terbaik. Sebagai negara dengan budaya teknologi yang tinggi, Jepang menerapkan juga teknologi untuk bidang pertaniannya.
Pertanian di negara ini sangat diatur secara detail, dikerjakan secara serius, mengutamakan teknologi namun tetap ramah lingkungan. Dengan keunikan pengelolaannya itu, Badan Pertaniannya PBB (FAO) menjadikan daerah pertaniaan di Jepang masuk dalam daftar Warisan Penting Sistem Pertaniaan Global (GIAHS).
Dengan porsi lahan pertanian hanya 25 % saja, masyarakat Jepang benar-benar memanfaatkan lahan mereka secara efisien, mereka menanam di pekarangan, ruang bawah tanah, pinggiran rel kereta, di atas gedung, pokoknya setiap lahan yang dapat dimanfaatkan mereka optimalkan.
Pasca Tsunami yang meluluh lantahkan sebagian lahan pertaniannya, jepang merencanakan sitem pertanian yang lebih modern. Sistem pertanian yang dijalankan oleh robot, seperti traktor tanpa awak, mesin tanam dan mesin panen. Untuk menghalau hama jepang akan menggunakan teknologi lampu LED.
Sedangkan, saran Departemen Pertanian Jepang untuk Indonesia menyebutkan bahwa teknologi dan sistem distribusi jadi kunci  sukses pertanian. Seperti yang telah di muat di situs VIVAnews - Wakil Direktur Jenderal Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang, Sakuraba, berbagi tips kepada Kemtan Indonesia yang ingin meningkatkan produk padinya agar memiliki kualitas nomor wahid. Menurut Sakuraba, rahasia dari produk pangan yang baik terletak dari teknologi yang digunakan ketika memanen dan sistem distribusi produknya.
Hal itu diungkap Sakuraba ketika berbincang dengan VIVAnews di kediaman Duta Besar Jepang untuk Indonesia.
"Sangat penting bagi Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan infrastruktur dan meningkatkan teknik memanen mereka. Selain itu pemerintah harus melakukan pengecekan yang menyeluruh dari produk pangan itu dipanen hingga disajikan sebagai makanan di meja makan," papar Sakuraba.
Di Jepang sendiri, hampir seluruh rakyatnya juga mengkonsumsi nasi seperti masyarakat Indonesia. Namun sayangnya, kini produk nasi mulai digantikan kehadiran roti.
"Oleh sebab itu Kementerian Pertanian gencar mempromosikan kepada masyarakat agar mengkonsumsi lebih banyak nasi,"  kata Sakuraba.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang gencar mempromosikan Gerakan Sehari Tanpa Nasi yang dicanangkan Kemtan pada Oktober 2010 silam. Gerakan itu merupakan kegiatan moral yang bertujuan untuk menekan konsumsi beras yang kian membumbung tinggi.
Selain itu dengan absen mengkonsumsi nasi selama sehari dan beralih ke produk pangan lain diyakini dapat meningkatkan kesehatan, khususnya mengurangi risiko terkena penyakit seperti diabetes. (adi)
Mesin Penanam dan Pemanen Padi Otomatis, Syarat Swasembada Pangan
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9a/Rice-planting-machine_2,katori-city,japan.JPG/800px-Rice-planting-machine_2,katori-city,japan.JPG 
Penanam Padi Otomatis (Rice transplanter) adalah mesin modern untuk menanam bibit padi dengan sistem penanaman yang serentak. Mesin ini sudah banyak di gunakan di beberapa negara. seperti China dan Taiwan. Cara pakai alat ini sangat gampang. Bibitkan gabah dalam petakan sawah seluas 20×80 cm. Setelah tumbuh menjadi bibit dan sudah berumur 15 hari, bibit tersebut ditaruh di atas mesin rice transplater.Selanjutnya, mesin siap beroperasi. Dalam sekali gerak, mesin ini dapat membuat 4 jalur dengan jarak antar jalur 30 cm. Hanya dalam waktu 4 jam, satu ton bibit padi yang digendongnya sudah habis ditanam.Berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian membuat petani harus lebih efisien dalam bertani dengan modernisasi alat-lat pertanian dan teknologi pertanian.
Beberapa jenis mesin tanam bibit padi
  1. Mesin tanam bibit padi dari Jepang
  2. Mesin tanam bibi padi dari China
  3. Mesin tanam bibit padi dari IRRI
2. Belanda
http://golagocik.blog.com/files/2013/05/windmills.jpg 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhw4jSwdOkyMDl1SqVz5LJZ2a5pYEVq2L-mxz35i4Ae-Ju7TlosKvQy5_cCPEdn_cDbJDFHmSO9a7mveTi71srec1LUpV0xD1TNb4bTY44MRoKATx-qyfIK6mxZP8zkQ5RlI6RPpXFywA/s1600/1.jpg 
Menurut saya negara ini sangat mengagumkan dalam hal pengelolaan pertaniannya. Dengan luas wilayah yang relatif kecil bila dibandingkan Indonesia, pada tahun 2011 Belanda mampu menjadi negara peringkat 2 untuk negara pengekspor produk pertanian terbesar didunia dengan nilai ekspor mencapai 72,8 miliar Euro.
Produk andalannya adalah benih dan bunga. Sektor pertanian merupakan pendorong utama ekonomi di Belanda dengan menyumbang 20% pendapatan nasionalnya.
Kunci dari majunya pertanian di Belanda adalah Riset. Kebijakan-kebijakan dan teknologi di adopsi dari riset-riset yang dilakukan para ahli. Salah satu pusat riset pertanian yang terkenal disana adalah universitas Wageningen.
Seperti yang telah di kutip pada sebuah situs bahwa negara Belanda dengan luas hanya 41.526km persegi mampu menjadi yang lebih unggul bila dibandingkan dengan negara kita yang luasnya 1.919.440km persegi. dan perlu kita garis bawahi bahwa nyaris seluruh wilayah di Belanda ada di bawah permukaan laut.
“Inovasi tiada henti dan kreativitas tanpa batas”
Kedua hal tersebut yang membawa negara Belanda selalu menjadi yang terbaik. Kemajuan sektor pertanian Belanda tidak hanya berfokus pada optimalisasi keuntungan namun juga sangat memperhatikan keberlanjutan dan keramahan lingkungan.
Pemerintah Belanda membentuk Mentri Ekonomi, Pertanian dan Inovasi yang difungsikan untuk membawa Belanda menjadi negara yang memadukan inovasi di dalam pertanian untuk mencapai ekonomi negara yang kuat dengan mengutamakan keberlanjutan lingkungan hidup. 
Salah satu kreativitas negara Belanda adalah menciptakan atau memanipulasi iklim
Nimbus II 2012, awan didalam kamar

Berkat Industri kreatif, perekonomian Belanda meningkat sebesar 3% dari GDP yaitu 16,9 Milyar Euro. Jadi industri kreatif mampu meningkatkan potensi perekonomian suatu negara, termasuk Belanda.
Tetapi, apakah cakupan industri kreatif hanya dibidang tersebut? Tentu saja tidak. Adalah pertanian, sektor penting di dunia, tanpa pertanian apakah kita akan bertahan hidup? Semua makanan dan minuman yang kita konsumsi berasal dari produk pertanian. Maka dapat dikatakan bahwa “Agriculture feed the world”. Lalu bagaimana kondisi pertanian di Belanda?
Luas wilayah Belanda hanya 41.526 km2, Belanda mempunyai potensi alam yang cukup baik untuk pertanian, Belanda mampu mengeksplorasi potensi tersebut dengan baik. Walaupun lahannya tidak luas, Belanda mampu menjadi negara yang dapat mencukupi kebutuhan pangan di negaranya tanpa mengimpor bahkan menjadi negara pengekspor pertanian. Hal tersebut dapat terjadi karena Belanda mampu mengoptimalkan keterbatasan menjadi kekuatan dan juga didukung dengan daya kreatifitas dan berpikir out of the box.
 Pertanian di Belanda sangat terintegrasi dan penuh dengan teknologi modern. Penggunaan teknik rumah kaca, memanipulasi iklim dalam ruangan serta teknologi robotik dan komputerisasi sudah menjadi hal yang lazim. Ketika musim panas, Belanda menerapkan mekanisme solar cell dirumah kaca yang berfungsi memanen energi panas dan disimpan di tandon dan sungai – sungai bawah tanah sehingga dapat menaikkan suhu air. Maka ketika musim dingin tiba, tidak perlu khawatir, karena mesin – mesin blower memanen simpanan energi bawah tanah dan mensirkulasi udara untuk memanipulasi iklim dalam ruangan, sehingga pertanian tetap berjalan. How cool the Dutch are!
Salah satu produk pertanian olahan kakao Belanda adalah Cokelat Van Houten. Berkat ke-kreatifitasan dalam pengemasan dan teknologi modern, sehingga menjadi cokelat yang terkenal di dunia.
Belanda juga terkenal dengan sektor pertanian non-pangan dan merupakan salah satu komponen penyumbang devisa, yaitu bunga Tulip. Peneliti dan ahli mampu membiakkan berbagai jenis bunga tulip, sangat kreatif dan inovatif. Seperti halnya di kebun tulip terbesar di Belanda, yakni Keukenhof (The Garden of Europe). Setiap musim semi, terdapat 7 juta bunga tulip dibiakkan disana.
Kebun bunga tulip di depan Keukenhof

Industri pertanian menyumbang 20% terhadap ekonomi Belanda. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki luas wilayah dan potensi alam yang jauh lebih besar dari Belanda, perlu di eksplor lebih baik agar Indonesia bisa menjadi negara yang maju dalam sektor pertanian.
Setelah saya membaca berbagai literatur mengenai perkembangan pertanian di Belanda, saya yang kini masih menuntut ilmu di bidang pertanian, ingin sekali menginjakkan kaki di Belanda. Ingin melihat betapa canggih dan kreatifnya pertanian disana, ingin menimba ilmu dan menerapkannya di Indonesia agar pertanian di negara kita pun bisa seperti di Belanda atau bahkan jauh lebih baik.
Jika Belanda dengan luas wilayah  hanya 41.526km2, mengapa Indonesia yang memiliki luas wilayah
1.919.440km2 tidak bisa lebih baik dari itu? saatnya kita untuk lebih maju kedepan. buktikan bahwa Indonesia bisa lebih baik. Jaya Pertanian Indonesia!
3. Amerika Serikat
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-viMdndkldOgv61FBhBhM4NxwDeFuz-o8t6Ov1hROTdGhRjMERZaMG5d5hWX3QK3NVQH-vUj6x02-nL7cN0SzIAHfmpKS9QT546687vdruuMSn526NZIOQS2A76YACXlgUZMf_JJHPnA/s1600/800px-TravellingSprinkler.JPG
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguA3m1PEZ_Wkz8GtvvJPWpZLIcacxqwX8HCZgW2NpuB5yzrzeslr6cGPe7zNU9Cxzu-RCdHj7a0q4ohzrrVN1dEw3NCT2O3lTU4Lp4iWOjnV6UlOddGMVojIn8ZWF0omSK4AhpybmIJOI/s1600/062910_0037_ExpertsMode1.jpg
Amerika Serikat terkenal sebagai penghasil kacang kedelai, gandum, kapas, kentang dan tembakau di dunia. Harga produk-produk tersebut sangat mempengaruhi  harga di dunia. Pertanian di sana dikerjakan dengan luas kepemilikan lahan yang luas, dikerjakan dengan teknologi pertanian yang hampir separuhnya dilakukan oleh mesin. Sistem irigasi dalam pengelolaan air pun di buat lebih efisien.

Cara AS memajukan pertanian
Kemajuan pertanian dengan menerapkan perkembangan teknologi dan inovasi terkini, membuat Amerika Serikat menjadi negara pengekspor hasil pertanian terbesar di dunia. Dukungan pemerintah dan kalangan universitas menjadikan petani di sana makmur.
Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara pengekspor hasil pertanian terbesar di dunia. Komoditasnya pun lengkap dan berkualitas sangat baik, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, ayam potong, daging sapi, susu, hingga ke tembakau dan biji-bijian.
Hasil tani utama para petani AS, antara lain gandum, kacang kedelai, beras, kapas, dan tembakau. Komoditas ini sebagian besar dieks-por ke sejumlah negara. Indonesia, antara lain mengimpor kacang kedelai, gandum, kapas, produk olahan susu, dan pakan ternak. Sungguh sebuah ironi. Ya...., berbagai tanaman ini semestinya dapat dihasilkan di tanah Indonesia yang subur.
Kalau kita menoleh sejenak ke belakang, sejarah mencatat bahwa sebelum orang-orang Eropa datang ke benua Amerika, penduduk asli Amerika, suku Indian telah menanam jagung. Jadi, umur perkebunan jagung di AS telah ribuan tahun. Nah.. waktu orang-orang Eropa dari berbagai negara mulai berdatangan, pertanian semakin meluas di sana.
Teknologi pertanian AS semakin maju lagi sejak abad ke-19, saat banyak mesin dan teknologi baru ditemukan. Kemajuan teknologi ini sampai ke AS, tetapi tidak membuat mereka  meninggalkan pertanian. Justru pertanian di sana semakin berkembang. Mesin dan teknologi yang ditemukan itu juga digunakan untuk meningkatkan hasil dan mutu pertanian.

Seperti penerapan ilmu biologi untuk mencangkok tanaman, agar hasil buahnya lebih bagus dari tanaman induknya. Ilmu pertanahan berguna untuk mengelola tanah pertanian dan mengatur sistem irigasinya. Kemajuan teknologi membuat pertanian semakin maju. Buktinya, lahan pertanian pun makin luas. Kebanyakan lahan pertanian di AS ditanami, antara lain jagung dan gandum. Tanah pertanian utama digunakan untuk menghasilkan makanan serat-seratan.
Bahkan komoditas yang dulunya tidak ada di sana, sekarang ini sudah banyak juga. Salah satunya adalah kedelai, yang baru diperkenalkan di AS pada tahun 1950-an, kini menjadi salah satu pengekspor kedelai terbanyak. Dan, salah satu importir kedelai dari AS adalah Indonesia.
“If you want the present to be different from the past, study the past.” (Baruch Spinoza, Dutch Philosopher)
Sesuai dengan kutipan diatas, Belanda telah membuktikan menjadi negara yang berbeda dari negara-negara lain di dunia dengan terus belajar dan belajar. Belanda tampil menjadi negara yang kuat dan sering masuk dalam jajaran negara-negara terbaik di dunia di berbagai aspek. Belanda adalah negara pengekspor produk pertanian terbesar kedua setelah USA dan negara pengekspor sayur serta bunga terbesar ketiga di dunia. Belanda memasok seperempat dari sayuran yang diekspor Eropa. Meskipun Belanda tergolong negara maju namun sektor agribisnis menjadi salah satu sektor utama dan pendorong kemajuan ekonomi Belanda.
“Inovasi tiada henti dan kreativitas tanpa batas”
Kedua hal tersebut yang membawa negara Belanda selalu menjadi yang terbaik. Kemajuan sektor pertanian Belanda tidak hanya berfokus pada optimalisasi keuntungan namun juga sangat memperhatikan keberlanjutan dan keramahan lingkungan. Pemerintah Belanda membentuk Mentri Ekonomi, Pertanian dan Inovasi yang difungsikan untuk membawa Belanda menjadi negara yang memadukan inovasi di dalam pertanian untuk mencapai ekonomi negara yang kuat dengan mengutamakan keberlanjutan lingkungan hidup.
 “Agriculture is our wisest pursuit, because it will in the end contribute most to real wealth, good morals, and happiness.”
(Letter from Thomas Jefferson to George Washington (1787))
Pada tahun 2010, di Belanda terdapat 10.000 Ha greenhouse dan separuhnya digunakan untuk menanam sayuran. Tomat, paprika dan mentimun merupakan hasil utama dari greenhouse ini. Greenhouse di Belanda dilengkapi teknologi yang canggih dan mengefisienkan waktu kerja.
 
Contohnya, greenhouse yang memproduksi honing tomaten sejenis tomat ceri dengan warna merah cerah, tekstur daging buah yang renyah dan cita rasa manis seperti madu.
Greenhouse honing tomaten ini bisa dikatakan unik karena melibatkan lebah madu sebagai predator alami dan membantu dalam penyerbukan bunga tomat. Penggunaan lampu ultraviolet pada musim salju menggantikan paparan sinar matahari agar tanaman tetap dapat berfotosintesis sehingga kegiatan produksi tomat tidak terhenti.
Desain kreatif pada kemasan makin mempercantik dan memberi kesan eksklusif tomat-tomat ini. Pemikiran kreatif yang membuat tomat tidak dipandang hanya sebagai sayur atau buah saja, namun mampu memberi kesan yang indah, eksklusif bahkan menarik untuk dijadikan cenderamata. Berikut kemasan honing tomaten yang begitu menarik dan telah mengisi rak-rak supermarket di Eropa.
  
4. Taiwan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSpV32G8yhDCCLOfUTNJ4d0UUg6SExo13gP-3mkQTrmxs4eTdByRKYeQBSrn3NO-4xCaZ3BIASVIFNjaHCRyqe4PpwMYSSmfr26-8ffaQPW0gHvalf-hDahATDfCLvTydeVwaTcTZrams/s1600/ShekMemorial.jpg
http://90ahmadjanuaris.files.wordpress.com/2012/06/pertanian-2_595_446_100.jpg
 http://eng.coa.gov.tw/coa_official/htmlarea_graph/web_articles/coa/12519/1.jpg
Hasil ekspor produk pertanian di negara ini adalah USD 11,8 miliar atau 1,5% pendapatan nasionalnya. Seperti juga di negara dengan pertanian lainnya, separuh pengerjaan dilakukan dengan teknologi canggih. Contohnya dalam penanaman padi, mereka menerapkan sistem yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Bila di Indonesia bibit padi di semai pada satu hamparan sebelum dipindah pada lahan sawah, di Taiwan bibit padi dimasukan suatu wadah pot segi empat dengan ketinggian 2 cm, saat tanam menggunakan mesin dengan kecepatan 3 jam/ha. Cara ini dapat menghemat waktu, tenaga, biaya serta menghasilkan pertumbuhan padi lebih baik, karena pada saat tanam tidak perlu mencabut bibit dari persemaiaan yang akan membuat tanaman stress dan memerlukan waktu untuk adaptasi.
 

Mengintip Pertanian Modern Taiwan
Hamparan sawah seluas satu hektar, hanya  memerlukan waktu tiga jam dalam menanam padi, jika menggunakan mesin tanam padi seperti yang ada di Taiwan.
Dengan pola tanam tersebut tentu dapat menghemat tenaga kerja, waktu serta yang menggiurkan adalah hasil panen yang memuaskan.Per hektar mampu menghasilkan 12 ton gabah.

Sistem pertanian modern di Taiwan, agaknya menjadi daya tarik bagi Kepala KDEI Taipei.Sehingga walau harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam antara Taipei Changhua, bapak dua putra ini tetap semangat mengikuti arahan dari konsultan teknik Chang Kuo-An saat mengunjungi para petani Taiwan beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya Mr. Chang menjelaskan, jika pertanian di Taiwan sistem menanam padi sangat jauh dengan sistem yang ada di Indonesia.Jika petani Indonesia dari bibit di semai dihamparan persemaian. Setelah persemaian tumbuh dengan memakan waktu kira-kira 15 hari barulah bibit padi di cabut(di daut) dari persemaian. Setelah itu padi baru di tanam diatas lahan. Dalam satu hektar cara penanaman ini memerlukan waktu seminggu dan membutuhkan tenaga kerja sekitar empat atau lima orang.

Menurut  Mr. Chang, jika sistem tanam seperti petani di Indonesia yang di jelaskan diatas, tentu ada beberapa kekurangannya. Diantaranya, bibit padi yang telah tumbuh di media semai, lantas di cabut lagi lalu di tanam di lahan sawah, tentu akan kurang bagus hasilnya. Karena padi yang di cabut akan stress dan untuk pulih memerlukan waktu seminggu. Induknya sudah tumbuh, anakannya baru tumbuh seminggu lagi. Selanjutnya bibit yang di cabut akar-akarnya akan tertinggal di lahan persemaian kira-kira bisa 40 persennya. Jadi ada 40 persen bibit yang hilang.Hal ini tentu akan mempengaruhi hasil produksi.
Namun jika menggunakan sistem ala pertanian Taiwan, bibit padi di semai di sebuah wadah pot persegi empat dengan ketinggian 2 cm. Media tanam menggunakan campuran tanah humus, batu bata merah yang telah di haluskan dan sekam. Gunakanya untuk menghemat tanah dan memberi pori-pori pernafasan bibit. Selanjutnya campuran padi dan pupuk di semaikan diatas media tanam.Hanya memerlukan waktu sembilan hari bibit-bibit padi sudah bisa di tanam di atas lahan sawah.

Cara tanam dengan menggunakan mesin tanam ini hanya memerlukan waktu tiga jam per hektar. Menggunakan mesin tanam ini, selain lebih efisien waktu dan tenaga juga membuat tanaman rapi, karena secara otomatis mesin telah memisah-misah bibit dengan jumlah yang sama dan dalam garis yang sama pula.Dengan menggunakan system ini, akan memperpendek proses olah, tanam dan petik. Mulai dari persemaian hingga panen petani akan merasakan jika dengan system ini akan lebih menguntungkan.

Keunggulan teknologi pertanian  Taiwan ini, karena proses pertanian di dukung dengan mesin yang seluruh prosesnya tidak banyak menyerap tenaga manusia. Seperti yang terlihat di lokasi, jika terdapat dua ruang yang terdapat mesin pompainer. Satu ruang khusus untuk mencampur tanah gabah dan pupuk, serta satu ruang lagi sebagai tempat pencetakan bibit.MenuruT Mr. Chan jika mesin pompainer berfungsi untuk menjaga mutu  bibit yang di tanam.Sementara mesin-mesin ini mampu menghasilkan produksi bibit sekitar 3000 dapot per jam.

Suhartono dalam kunjungannya juga sempat menjalankan mesin tanam padi.Menurutnya mesinnya mudah dijalankan, dan jika petani Indonesia menggunakan mesin ini, diharapkan Indonesia bakal menjadi negara surplus akan pangan. Mengingat lahan di Indonesia masih cukup luas sementara tak di manfaatkan dengan baik.” Jika saja Indonesia mengadopsi sistem pertanian seperti ini, mungkin cerita soal import beras tak ada ceritanya lagi.
Terutama bagi petani, yang bakal merasakan manfaatnya karena panen bisa tiga kali dalam setahun karena pendeknya waktu.Selain itu tenaga kerja muda, yang mungkin malu bekerja di sawah dan memilih ke luar negeri juga akan berkurang. Karena dengan menggunakan system pertanian modern hasil yang di dapatkan akan memuaskan.maka kenapa mesti keluar negeri?’ ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan Chang Kuo-An, jika sudah saat Indonesia menggunakan tehnologi modern dalam pertaniannya, karena jika tidak bakal ketinggalan dengan petani-petani dari negara lain. Yang karena ketertinggalan tersebut akhirnya sangat tak masuk akal, jika negara agraris sampai mengimport beras untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya.

 
Share this article :

No comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Forum Mahasiswa Agroteknologi UNS - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
Selamat datang Di blog resmi Forum Mahasiswa Agroteknologi (FORMAT) Fakultas Pertanian - Universitas Sebelas Maret