Hai teman-teman Agroteknologi..
Ada yang tahu tentang Agrotech's Tour? Ya, ini merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Format yang diisi oleh berbagai kegiatan. Agrotech's Tour ini merupakan kombinasi dari 3 proker bidang Humas, Keilmiahan dan Keprofesian. Jika tahun lalu Agrotech's Tour menjadikan Malang sebagai destinasi, Agrotech's Tour tahun ini destinasi kita adalah Banyumas.
Agrotech's Tour berlangsung dari tanggal 28-29 Maret 2015. Kami melakukan kunjugan ke Himagrotek Unsoed pada tanggal 28 Maret 2015. Di sana, teman-teman Format mendapatkan sambutan hangat dari teman-teman Himagrotek. Agenda pertama adalah sharing proker antar kedua belah pihak, yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berikutnya teman-teman Format diajak untuk berkeliling wilayah kampus pertanian. Di siang hari, kami bersama-sama mengunjungi desa Melung, kabupaten Banyumas. Desa tersebut bertempat di kaki gunung Slamet, merupakan desa yang kaya potensi akan pertanian organiknya. Disana, kami melakukan sarasehan bersama dengan petani lokal untuk membahas kondisi pertanian setempat. Setelah itu kami menuju ke wisata Baturaden dan menikmati keindahan panorama khas pegunungan Slamet.
Di malam hari, diadakan sarasehan santai antara Unsoed dan Uns. Teman-teman Uns mendapatkan kesempatan untuk mencicipi Soto Sokaraja, yang merupakan salah satu makanan khas Purwokerto. Di acara itu, kami menyanyikan lagu bersama-sama. Salah satu lagu yang dinyanyikan yaitu "Long Live My Family" dari Endang Soekamti. Lagu tersebut bercerita tentang kekeluargaan antara Himagrotek dengan Format yang meskipun terpisah jarak tapi tetap saling menjaga silaturahmi.Setelah sarasehan selesai, kami pun bersalaman satu persatu untuk lebih mengakrabkan satu sama lain.
Di hari berikutnya, rombongan Agrotech'sTour mengunjungi Pantai Depok. Kami tiba di sana sebelum subuh sehingga sempat menyaksikan indahnya matahari terbit yang terlihat dari balik tebing. Kunjungan ke pantai itu merupakan agenda terakhir dari serangkaian acara Agrotech's Tour 2015. Meskipun singkat, tapi perjalanan tersebut tetaplah sangat berharga untuk lebih dari sekedar dikenang.
HIMAGROTEK, SELALU DIHATI..!!!!
FORMAT.. JAYA!!!! FORMAT... BERKARYA!!!
Pages
▼
Tuesday, March 31, 2015
Thursday, March 19, 2015
Optimalisasi Lahan Rawa sebagai Lahan Pertanian Berkearifan Lokal Menuju Indonesia Berdaya Saing Global
Seminar
Nasional bertemakan “Optimalisasi
Lahan Rawa sebagai Lahan Pertanian Berkearifan Lokal Menuju Indonesia Berdaya
Saing Global” yang diadakan pada 6 Maret 2015 bertempat di Universitas
Sriwijaya merupakan salah satu rangkaian acara Musyawarah Nasional dan Rapat
Koordinasi Nasional Formatani (Forum Mahasiswa Agroteknologi Indonesia). Acara
tersebut dihadiri oleh beberapa delegasi dari berbagai universitas di Indonesia
dan juga mahasiswa asal Jepang dari Kagoshima University. Acara seminar
tersebut di isi oleh 3 orang pembicara. Pembicara yang pertama adalah
Prof.Dr.Ir. Rujito Agus Suwignyo, M.Agr, Prof.Dr.Ir. Rubianto H. Susanto, M.Agr.Sc,
dan Prof.Dr. Jun-Ichi Sakagami. Sesuai dengan tema seminar, materi yang
diangkat berdasarkan masalah pemanfaatan lahan rawa sebagai lahan pertanian,
terutama tanaman padi di Indonesia.
Dalam
seminar tersebut dipaparkan bahwa pengembangan daerah rawa di Indonesia
tersebar di beberapa pulau, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian
Jaya. Luas lahan rawa Indonesia diperkirakan mencapai 33.393.570 hektar yang
terdiri dari 20.096.800 hektar (60,2%) lahan pasang surut dan 13.296.770 hektar
(39,8%) lahan rawa non-pasang surut (lebak). Dari luasan tersebut, total lahan
rawa yang dikembangkan pemerintah adalah 1.8 juta ha dan oleh masyarakat
sekitar 2.4 juta ha.Dari
luasan33 hektar tersebut sekitar 6 juta hektar diantaranya cukup potensial
untuk pengembanganpertanian.Pada lahan rawa pasang surut,
terdapat masalah utama dalam melakukan budidaya pertanian, (1) Tanaman
pertanian seperti padi rawan akan submergensi (2) Sulit menentukan masa tanam,
dikarenakan pola genangan sulit untuk diprediksi (3) Pertimbangan varietas,
tidak semua varietas untuk komoditi pertanian seperti padi bisa beradaptasi
pada lahan suboptimal seperti rawa. Maka dari itu, perlu adanya teknologi
budidaya yang tepat untuk pengembangan pertanian di lahan rawa, terutama
tanaman seperti padi.
Ratun atau dalam
bahasa daerah sering
disebut sebagai singgang atau
turiang adalah anakan
padi yang tumbuh kembali
setelah dipanen.Pengujian kemampuan
beberapa varietas padi berdaya
hasil tinggi dalam menghasilkan ratun, telah
dilaporkan terutama terhadap padi-padi unggul
nasional, baik dari kelompok
hibrida, inbrida maupun
padi tipe baru dan
semi tipe baru.
Dari 30 genotipe padi
yang diuji potensi
ratunnya di rumah kaca,
terdapat 17 genotipe
yang mampu menghasilkan ratun tinggi, delapan genotipe menghasilkan
ratun sedang dan sisanya
menghasilkan ratun rendah.
Kriteria yang digunakan
dalam menetukan tingkat potensi
ratun adalah kriteria tinggi
apabila produksi ratun
lebih dari 50% dari
produksi tanaman utama, kriteria sedang
adalah jika produksi
ratun berkisar antara 30%-49%
dari produksi tanaman tama
dan kriteria rendah
adalah produksi ratun 10%-29%
dari produksi tanaman utama.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kemamputan
tanaman utama menghasilkan ratun antara lain vigoritas tunggul
setelah panen tanaman utama, tinggi
pemotongan saat panen, pemupukan dan
penggenangan air.
Budidaya padi sistem ratun dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Satu hari setelah
panen dilakukan pemotongan tunggak padi.
2. Dilakukan
pengenangan 2-3 hari setelah panen.
3. Dilakukan
pemupukan dasar pada umur 5 hari setelah panen.
Teknologi sistem tanam ratun ini
dapat dijadikan salah satu solusi budidaya padi pada lahan rawa. Selain dalam
segi teknologi lebih sustainable,
dengan penerapan teknologi benih dan penataan lahan yang tepat, padi dapat
mudah beradaptasi dengan keadaan suboptimal dan dapat menunjang produksi padi
di lahan tipe rawa tersebut, bahkan mampu memberikan hasil panen yang cukup
besar dibandingkan budidaya konvensional. Untuk menanggulangi lahan yang
tergenang, pembibitan dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode apung dan
metode tanah dangkal. Pada metode apung, bibit yang akan digunakan disemai di
lahan kecil diatas sebuah rakit sehingga benih tidak akan tergenang dan dapat
tumbuh dengan baik. Sedangkat metode tanah dangkal adalah dengan melakukan
pendangkalan pada sebagian kecil lahan untuk kegunaan peryemaian. Setelah benih
ditanam di lahan rawa, panen dapat dilakukan seperti budidaya padi pada
umumnya, namun keuntungannya adalah tidak perlu dilakukan olah tanah, selain
karena lahan tersebut tergenang, karena pada sistem ratun, sisa tanaman yang
berupa batang bawah dan akar padi masih digunakan untuk musim tanam selanjutnya
dengan memanfaatkan tunas baru yang tumbuh dari rumpun tersebut. Disisi lain,
ini lebih menguntungkan karena tidak dibutuhkannya benih baru untuk masa tanam
selanjutnya. Hal ini dibuktikan dengan percobaan penelitian yang dilakukan oleh
beberapa dosen di Universitas Sriwijaya yang bekerja sama dengan dosen dari Kagoshima
University.
Munas dan Rakornas ke-3 Formatani 2015
Palembang,
2 Maret 2015. Forum Mahasiswa Agroteknologi atau biasa disingkat FORMATANI
mengadakan agenda Musyawarah Nasional dan Rapat Koordinasi Nasional yang
diselanggarakan oleh Universitas Sriwijaya (UNSRI), bertempat di Wisma UNSRI,
kota Palembang. Acara ini diadakan dengan mengundang Mahasiswa Agroteknologi
seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Marauke, untuk membahas keberlangsungan
organisasi dan juga mungangkat permasalahan-permasalahan yang berhubungan
dengan dunia pertanian di Indonesia, dan disitulah mereka mencari solusinya
bersama-sama.
Forum
Mahasiswa Teknologi (FORMAT) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Surakarta diundang untuk menghadiri acara tersebut. Kami mengirimkan 2 delegasi
kami ke Palembang, yaitu saudara Akas Anggita yang saat itu masih menjabat
sebagai Sekertaris Jendral FORMATANI periode 2013/2015 dan saudara Rahmanto
dari Agroteknologi angkatan 2013. Mereka dipercaya untuk mewakili suara dan
aspirasi Agroteknologi UNS di dalam forum nasional tersebut. Perjalanan
ditempuh selama 3 hari lewat jalur darat, memang melelahkan, namun tidak
seberapa karena selama perjalanan kami berjumpa dengan keluarga kami dari jauh,
mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram dari Nusa
Tenggara Barat dan mahasiswa Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung
dari Bandar Lampung. Sesampainya di Palembang, kami disambut dengan hangat oleh
tuan rumah, dan kami mendapat kesempatan untuk melihat indahnya kota Palembang
pada malam hari dan pemandangan dari atas jembatan Ampera. Tiba di tempat
penginapan, kami bertemu dengan seluruh keluarga FORMATANI dari Wilayah I
sampai Wilayah IV, bercengkrama bersama, bercerita dan berbagi ilmu.
Pada
hari pertama, diadakan musyawarah untuk membahas pondasi konstitusional
organisasi yang baru. Karena pembahasan yang cukup panjang, sehingga agenda
berlanjut hingga hari kedua. Namun, hal tersebut tidak mengurangi anthusiasme
kami. Dari hasil pada hari kedua, maka tebentuklah AD/ART, GBHO, dan GBHK
FORMATANI yang baru. Selain itu, disitu juga dipaparkan tentang Laporan Pertanggungjawaban
Kepengurusan yang lama. Setelah dipaparkan, akhirnya laporan tersebut disetujui
dan dengan demikian, kepengurusan yang lama berakhir. Pada hari ketiga,
diadakan musyawarah untuk membentuk kepengurusan yang baru. Dari musyawarah
tersebut, terpilih saudara Bayu Pratama dari Universitas Bengkulu (UNIB) dan
Nico Fajar Reynaldi dari Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai Badan
Pengawas Organisasi (BPO) Wilayah I, Rahmanto dari Universitas Sebelas Maret
Surakarta (UNS) dan Ayu Medang Tanjung dari Universitas Tanjung Pura (UNTAN)
sebagai BPO Wilayah II, Wahyu Cipta Yuliasari dan Febrian Ben Benson Purba dari
Universitas Jember (UNEJ) sebagai BPO Wilayah III.

Pada
hari keempat, diadakan pemilihan Sekertaris Jendral FORMATANI yang baru.
Terdapat dua kandidat dalam pemilihan tersebut, yaitu saudara Agah May Hendra
dari Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan saudara Nolly Hummam Wijaya dari
Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Hasilnya, dilantik saudara Agah
May Hendra (2012) dari UNSRI sebagai Sekjend FORMATANI periode 2015/2017.
Diharapkan kepengurusan baru yang dipimpin saudara Agah May Hendra dapat
membawa FORMATANI untuk lebih maju dan berkembang dan tetap berkarya untuk
pertanian Indonesia.










