Informasi Terbaru :

Mengenal Subak Lebih Dekat

Tuesday, October 14, 2014 | 0 comments

Subak mulai sering dibicarakan karena dia telah dinyatakan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2012.

Apa keistimawaan dari Subak sehingga membuat UNESCO menobatkannya sebagai budaya warisan dunia? Subak sebagai sistem irigasi bukan hanya mencakup bagaimana sistem irigasi yang tepat untuk diaplikasikan baik dalam pertanian, perikanan, maupun dalam memanfaatkan air sebagai sumberdaya alam. Yang membuat Subak itu menjadi lebih spesial adalah asas kerjanya berdasarkan asas keadilan. 





Sebelum membuat sistem irigasi, terlebih dahulu dilakukan musyawarah untuk melakukan perencanaan dan melaksanakan pengairan baik untuk sawah, kolam ikan, termasuk air bersih dengan sangat adil melalui musyawarah di Bali disebut Sangkep [Angkep = berdekatan/mendekat]. 

Perencanaan matang disiapkan bagaimana nantinya sebuah lahan akan diberi air, seberapa banyak, seberapa lama, dan bagaimana mereka bekerja semua terencana dengan baik. Subak tidak hanya berlandaskan asas keadilan tapi juga bagaimana menjaga kualitas dan kuantitas air dan memanfaatkannya secara optimal, bagaimana mengelola air agar tidak lewat begitu saja dari gunung menuju laut
Continue Reading

Fit-C, Silaturahmi dengan HIMAGHITA

Saturday, October 11, 2014 | 0 comments


FORMAT JAYA !!
FORMAT BERKARYA !!
Hari Selasa tanggal 7 Oktober 2014 merupakan hari spesial bagi 2 HMJ yaitu FORMAT dan HIMAGHITA. Mengapa demikian ?? Karena ini merupakan pertama kali FORMAT bisa bersilaturahmi dengan “tetangga dekat” HIMAGHITA yang bertempat di lapangan basket FP UNS dan depan gedung D FP UNS. Format With Other Civitas atau yang bisa disingkat dengan Fit-C merupakan salah satu proker dari bidang Humas FORMAT FP UNS periode 2014/2015. Proker ini merupakan sebuah acara silaturahmi dari FORMAT kepada civitas lain yang ada di faperta ini baik dosen maupun UKK-HMJ. Pada agenda Fit-C kali ini, FORMAT mendapat kesempatan untuk bersilaturahmi dengan HIMAGHITA (Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan).
            Seluruh pengurus masing-masing HMJ mengikuti acara ini dengan penuh semangat. Untuk mengawali acara Fit-C, ketua umum FORMAT Dani Rizky Putra Pratama dan ketua umum HIMAGHITA Imam Pambudi memberikan sambutan dan bercerita secara singkat tentang HMJ masing-masing. Kemudian dari mas Dani dan mas Imam meperkenalkan para pengurusnya. FORMAT terdiri dari bidang Sekbend, Humas, P dan K, Keprofesian, Pengmas dan Keilmiahan. Sedangkan HIMAGHITA terdiri dari bidang Kesekretariatan, Bendahara, Humas, P dan K, Kewirausahaan, Keprofesian, Penelitian dan Pengembangan. Jika di FORMAT ada  Badan Keprofesian FORMAT, maka di HIMAGHITA juga memiliki bidang sejenis yang disebut BSO (Badan Semi Otonom).

Acara berikutnya yaitu sharing tertutup per bidang. Setiap bidang yang sama dari kedua HMJ saling bercerita tentang program kerja masing-masing secara santai. Di acara ini, banyak pelajaran yang bisa diambil dari sharing dengan HIMAGHITA. Salah satunya adalah agar kita lebih berani dalam berinovasi menciptakan program kerja. Selain itu ternyata HIMAGHITA juga memiliki acara serupa dengan Fit-C yaitu HIMAGHITA silaturahmi yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu antara HIMAGHITA dengan salah satu dosen ITP. Mendekati akhir acara dari pihak HIMAGHITA mempersembahkan karya musik akustik untuk memeriahkan acara kali ini.
Meskipun berlangsung singkat, namun Fit-C mampu membuat FORMAT dan HIMAGHITA saling mengenal satu sama lain. Seperti kata pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang’ maka Fit-C merupakan pintu gerbang agar FORMAT dan HIMAGHITA lebih dekat dan saling bekerja sama kedepannya. Harapan untuk kedepannya, Fit-C ini akan terus berlanjut antara FORMAT dengan civitas lain yang ada agar tercipta jalinan kekeluargaan antar civitas yang ada di fakultas tercinta kita ini. 
Event ini ditutup dengan foto bersama teman2 HIMAGHITA :D

FIT-C (FORMAT With Other Civitas)
FORZA HIMAGHITA !!
HIMAGHITA MAJULAH !!
Continue Reading

Pelaksanaan Land Reform Demi Menjunjung Kedaulatan Pertanian

Monday, September 29, 2014 | 0 comments


Trend yang selalu didengungkan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya yaitu swasembada beras, ketahanan pangan dan kedaulatan pangan merupakan cita-cita terbesar kita sebagai negara agraris. Sebagai negara agraris, sebagian besar sumber pendapatan masyarakat Indonesia berasal dari sektor pertanian.  Kondsi geografis yang unik serta bentang lahan mencapai 188 juta hektar membuat Indonesia sepantasnya mampu menjadi negara dengan ekspor komoditas pertanian terbesar se-ASEAN.
Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kapasitas impor komoditas pertanian terbesar di ASEAN. Salah satu penyebabnya adalah luas lahan yang terus berkurang sehingga tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk. Luas lahan di Indonesia yang hanya sekitar 25 juta hektar tidak sebanding untuk memproduksi kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 252 juta jiwa. Data yang didapat dari Badan Pusat Statistik 2013 menyebutkan bahwa Indonesia telahmengimpor beras sebanyak 46 ribu ton, jagung 335 ribu ton, kedelai 54 ribu ton dan komoditas lainnya mencapai US$ 640,76 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2012 yang hanya US$ 503,59 juta.
Beberapa pertanyaan pasti muncul dalam benak kita. “Mengapa impor?” ; “Apakah hasil pertanian dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan di negeri ini?”.


Mimpi tentang kedaulatan pangan seakan sirna oleh kondisi lahan yang semakin berkurang luasnya dan kebijakan impor terhadap berbagai komoditas pertanian. Sesungguhnya kedaulatan pangan itu adalah hak dari segala bangsa di dunia ini untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya untuk berkecukupan pangan, dan berbagi bahan pangan secara sukarela dan bergotong royong dengan bangsa-bangsa lainnya. Bahwa hak dari bangsa-bangsa di dunia ini telah berkurang bahkan hilang untuk bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya. Pemerintah Indonesia telah salah arah dalam mengambil kebijakan pembangunan pertanian dan pangan di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menyerahkan kebijakan pangan Indonesia pada perangkap perdagangan bebas pangan dunia, ke tangan para spekulan pangan.
Beberapa bulan terakhir masyarakat Indonesia seakan larut dalam sukacita “pesta demokrasi” yaitu pemilihan legislatif dan pasangan presiden-wakil presiden untuk periode selanjutnya. “Pesta demokrasi” yang telah menggunakan anggaran pemerintah dalam jumlah sangat besar mampu membawa bangsa Indonesia menuju kesejahteraan bagi masyarakat, khususnya kaum petani. Bentuk apresiasi bagi petani oleh pemerintahan yang baru yaitu momentum Hari Tani Nasional (HTN) tanggal 24 September 2014 dan yang kedua adalah RUU Pilkada yang rencananya akan disahkan pada tanggal 25 September 2014.
Peringatan Hari Tani Nasional ke-54 merupakan momentum penting bagi kaum tani secara khusus dan rakyat Indonesia secara umum yang selama ini tidak lagi memiliki kedaulatan atas sumber-sumber agraria yang di dalamnya mencakup pertanian, sumber daya alam, kehutanan hingga perikanan dan kelautan. Liberalisasi sumber daya alam membuat kesengsaraan yang luas bagi kaum tani dan rakyat di pedesaan akibat sistem perdagangan bebas yang menyingkirkan mereka dari tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan. Hal ini menyebabkan konflik agraria yang melibatkan kaum tani melawan perkebunan besar, pertambangan bahkan perusahaan swasta.
Oleh sebab itu pada momentum HTN 2014 demi menegakkan kedaulatan pangan dan mengakhiri kemiskinan di Indonesia maka FORMAT FP UNS dengan mengutip dari ISMPI menyatakan bahwa:
   1.    Pemerintah Indonesia harus mencabut pembebasan impor bea masuk ke Indonesia.
  2.    Pemerintah Indonesia harus melaksanakan reforma agraria dan landreform untuk memastikan hak setiap petani untuk menguasai tanah pertanian, sesuai dengan konstitusi Indonesia pasal 33 UUD 1945 dan UUPA No. 5 tahun 1960, dan pemerintah Indonesia harus mencabut undang-undang; Undang-undang no. 7/2004 tentang sumber daya air, Undang-undang no. 18/2004 tentang perkebunan, serta Undang-undang no. 27/2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
   3.    Pemerintah Indonesia harus menempatkan pertanian rakyat sebagai guru dari perekonomian di Indonesia, dan pemerintah Indonesia harus menghentikan pengembangan food estate.
  4.    Pemerintah Indonesia harus membangun industrinasional berbasis pertanian, kelautan dan keanekaragaman hayati Indonesia.
   5.    Pemerintah Indonesia segera memfungsikan Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk menjadi penjaga pangan di Indonesia, dengan memastikan mengendalikan tata niaga, distribusi dari hasil produksi pangan petani Indonesia, khususnya padi, kedelai, jagung, kedelai, dan minyak goreng. Pemerintah Indonesia juga harus menjadi pengendali seluruh impor pangan yang berasal dari luar negeri.
   6.    Pemerintah Indonesia perlu memastikan adanya perlindungan sosial, menjamin pemenuhan pangan, pendidikan, kesehatan bagi semua warga negara, khususnya para buruh dengan menjamin kepastian kerja dan menghapus sistem upah murah (outsourcing)
   7.    Pemerintah Indonesia harus menyusun dan menerapkan secara menyeluruh dan berkesinambungan adanya program agroeducation sejak dini bagi seluruh generasi muda Indonesia agar terbangun kebanggaan komprehensif untuk terus membangun kedaulatan pangan nasional.
   8.    Pemerintah Indonesia berkewajiban mengembalikan citra bangsa ini sebagai Negara agraris dan menjadikan sektor pertanian sebagai leading sektor pembangunan bangsa.

 





Continue Reading

Ekspedisi Nasional Citarum, Dari Agroteknologi Untuk Alam Yang Lestari

Wednesday, September 17, 2014 | 0 comments

Forum Mahasiswa Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia atau yang biasa disebut dengan FORMATANI merupakan sebuah forum yang menampung seluruh mahasiswa Agroteknologi dari berbagai universitas di Indonesia. Hingga saat ini, FORMATANI telah menyelenggarakan dua agenda nasional yaitu Ekspedisi Nasional Bangka Belitung bertema “Reklamasi Lahan Bekas Galian Timah” dan Ekspedisi Nasional Citarum bertema “Pelestarian Sungai”. Ekspedisi Nasional Citarum yang berlangsung dari tanggal 25-28 Agustus 2014 ini diselenggarakan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA).


Karawang menjadi tuan rumah dari agenda FORMATANI ini. Ekspedisi Nasional Citarum didukung oleh 6 Kementrian diantaranya Kementrian Lingkungan Hidup dan BAPPENAS diikuti sekitar 120 delegasi dari 25 universitas di Indonesia. Kita tahu bahwa Karawang dikenal sebagai “Lumbung Padi Nasional” akan tetapi produksi padi di wilayah tersebut akhir-akhir ini mengalami penurunan. Hal ini diduga karena tercemarnya sistem pengairan oleh kawasan industri di sekitar sungai. Berangkat dari permasalahan ini, maka agenda FORMATANI kali ini dikhususkan untuk pelestarian sungai.
Ekspedisi Nasional Citarum didukung oleh 6 Kementrian diantaranya Kementrian Lingkungan Hidup dan BAPPENAS. Kegiatan ini dimulai dari acara seminar nasional yang dibuka oleh Dr Cellica Nurrachadiana selaku Wakil Bupati Karawang. Adapun tema seminar berkaitan dengan pelestarian sungai agar kembali menjadi BESTARI (Bersih Sehat Lestari). Dalam seminar tersebut, salah satu perwakilan Pemda Karawang mengutarakan bahwa sungai citarum dengan panjang 296 km merupakan sungai strategis nasional yang mampu memberi makan 25 juta orang dimana 60% nya untuk warga Jakarta. Sungai ini berhulu di Bandung Selatan dan melintasi delapan kabupaten lain di Jawa Barat. Akan tetapi sungai ini memiliki permasalahan di hilir karena menjamurnya kawasan industri.


Agenda yang dijalani oleh para delegasi di hari berikutnya yaitu penyusuran sungai Citarum dari waduk Saguling hingga alun-alun Karawang. Penyusuran ini merupakan acara puncak dari serangkaian acara ENC dimana para delegasi  mendapatkan kesempatan menyusuri sungai citarum sekaligus melakukan observasi. Setibanya di alun-aun Karawang, para delegasi ini melakukan orasi bertema “Save Our Citarum” sebagai bentuk solidaritas mahasiswa agroteknologi/agroekoteknologi dalam menyelamatkan sungai Citarum.
Kunjungan ke BALE PARE merupakan agenda terakhir dimana para mahasiswa delegasi setiap universitas dapat mengenal salah satu lumbung padi organik terbesar di Jawa Barat beserta cara budidaya padi organik. Kedatangan para mahasiswa disambut oleh Ketua P4S Bale Pare Karawang bapak Rohmat Sarman. Kegiatan di Bale Pare meliputi talkshow, pembagian doorprize, dan mencoba beras organik Bale Pare. Acara tersebut sangat tinggi antusiasmenya dari para mahasiswa yang ditandai dengan beberapa pertanyaan dari delegasi UNSRI Palembang, Unsyiah Aceh, UNRI Riau, dll


Penutupan dari kegiatan ENC berlangsung di tempat Bale Pare dengan foto bersama dan para panitia ENC dari UNSIKA Karawang. Tentunya ini merupakan bekal ilmu yang sangat berharga bagi teman-teman delegasi untuk bisa diadopsikan ilmunya di daerah masing-masing. 
FORMATANI SALAM SATU CINTA!!

Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Forum Mahasiswa Agroteknologi UNS - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
Selamat datang Di blog resmi Forum Mahasiswa Agroteknologi (FORMAT) Fakultas Pertanian - Universitas Sebelas Maret