Informasi Terbaru :

Perjanjian Lisensi Pupuk Hayati BIOBUS

Sunday, July 4, 2010 | 0 comments


Bertempat di ruang Rapat Gedung B BBSDLP telah dilakukan perjanjian lisensi Pemanfaatan Formulasi dan Teknologi Produksi Pupuk Hayati BIOBUS antara Ka. Balittanah (Dr. Ir. Sri Rochayati, M.Sc) dengan Direktur Utama PT. Bio Industri Nusantara (Ir. Dwi Sutanti) yang disaksikan oleh Ka. BBSDLP (Prof. Dr. Ir. Irsal Las).

Dengan mempertimbangkan bahwa Balittanah memiliki hak untuk memberikan lisensi di bawah perjanjian rahasia dagang. Selanjutnya berdasarkan hak khusus yang diberikan oleh Balittanah yang mempunyai kekuatan hukum, maka PT. Bio Industri Nusantara berkeinginan mengembangkan hasil penelitian berupa penemuan formulasi dan teknologi produksi pupuk hayati BIOBUS, serta bertanggung jawab atas pengembangan aplikasi dan komersialisasinya. PT. Bio Industri Nusantara berlaku sebagai pemegang lisensi atas produk pupuk hayati BIOBUS.

Dengan mengingat bahwa penelitian dan pengembangan pupuk hayati BIOBUS telah dilakukan sejak tahun 2006 serta telah diuji efektivitasnya pada komoditas kedelai dengan hasil yang telah memenuhi sasaran tekno ekonomis.

sumber : http://balittanah.litbang.deptan.go.id/

Continue Reading

Serangan wereng meluas, stok pestisida menipis

| 0 comments


Wonogiri (Espos)–Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Wonogiri mulai kehabisan stok pestisida. Padahal, serangan hama wereng coklat telah meluas ke wilayah timur Kota Gaplek.

Kabar terakhir, sudah enam kecamatan yang mengalami serangan hama tersebut. Keenam kecamatan tersebut adalah Selogiri, Wonogiri, Ngadirojo, Sidoharjo, Jatisrono dan Girimarto.

Meski serangannya tidak menyeluruh-ada yang hanya 5 hektare seperti di Sidoharjo, ada pula yang sampai ratusan hektare seperti di Selogiri-perkembangan serangan ini cukup mengkhawatirkan, mengingat perkembangbiakan wereng yang sangat cepat. Terlebih dengan persediaan pestisida di gudang Dinas PTPH yang semakin hari semakin menipis.

“Hari ini (kemarin) saya sudah memantau ke Girimarto dan Jatisrono. Di Girimarto ada 80 hektare yang kena, sedangkan Jatisrono saya belum memperoleh data lengkapnya. Mengenai stok pestisida di gudang, saya tidak hapal jumlahnya, tapi memang sudah sangat tipis,” ungkap Kepala Dinas PTPH, Guruh Santoso, saat dihubungi Selasa (29/6).

Kendati demikian, Guruh menegaskan tekatnya untuk tidak menyerah. Dia mengatakan akan terus mengusahakan bantuan pestisida ke pemerintah pusat atau provinsi. Menurutnya, hingga saat ini, total sudah lebih dari 5 kuintal pestisida dengan nilai mencapai kurang lebih Rp 500 juta telah didistribusikan untuk penanggulangan wereng coklat.

Sementara itu, pantauan Espos, Selasa pagi, seratusan petani Desa Singodutan berkumpul di Krisak, tak jauh dari lokasi bakal pembangunan terminal tipe A. Sebelumnya, mereka mendapat informasi bahwa wilayah itu akan didrop bantuan pestisida dan akan dilakukan penyemprotan massal. Para petani pun sudah membawa tabung penyemprot.

Mereka sempat kecewa karena bantuan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Begitu datang sekitar pukul 09.00 WIB, jumlahnya hanya 10 botol pestisida berukuran 500 ml. “Ya jelas kurang, wong petani yang datang cukup banyak. Pukul 07.00 WIB tadi seratusan orang mungkin ada. Kini sebagian sudah pada pulang karena menunggu terlalu lama,” ungkap salah seorang petani dari Krisak Kulon, Desa Singodutan, Yanto Widodo.

Karena jumlah bantuan pestisida yang kurang itulah, penyemprotan massal urung dilaksanakan. Meski akhirnya bantuan ditambah, petani tetap menyemprot lahannya sendiri-sendiri.

Continue Reading

Harga Pupuk Pabrik Naik, Petani Diimbau Gunakan Pupuk Organik

| 0 comments

KOTABARU--MI: Petani di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan diimbau menggunakan pupuk organik, menyusul kenaikan harga tertinggi eceran (HET) pupuk anorganik sekitar 30-35 persen.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kotabaru H Zuhairil Anwar, MM, di Kotabaru Rabu (28/4) menyikapi kekhawatiran petani tidak mampu membeli pupuk karena kenaikan HET. Ia mengatakan, Dinas Pertanian Kotabaru telah membagikan beberapa unit alat pembuat pupuk organik (APPO) kepada beberapa kelompok tani di daerah.

Selain pembagian mesin pengolah pupuk organik, beberapa kelompok tani juga dilatih untuk membuat pupuk yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan baku jerami atau limbah. Kendati saat ini belum banyak petani yang berminat menggunakan pupuk organik, pihaknya optimistis, suatu saat nanti petani di Kotabaru lebih memilih pupuk organik, karena cara mengolahnya mudah dan bahan bakunya cukup tersedia tanpa mengeluarkan biaya tinggi.

Ia mengaku, sampai saat ini petani di Kotabaru masih sangat tergantung pada pupuk an-organik, seperti urea, TSP/SP36, Za dan yang lainnya. Sebelumnya, pemerintah melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2010 memutuskan kenaikan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi dengan besaran sekitar 30-35 persen mulai berlaku 9 April 2010.

Dengan kenaikan harga tersebut, maka harga eceran tertinggi pupuk urea yang sebelumnya Rp1.200 naik menjadi Rp1.600 per kg, pupuk SP-36 dari Rp1.550 menjadi Rp2.000 per kg dan pupuk ZA dari Rp1.050 menjadi Rp1.400 per kg, pupuk NPK naik dari kisaran Rp1.586 hingga Rp1.830 menjadi Rp2.300 per kilogram.

Salah seorang petani di Kelumpang Selatan, Kotabaru, Rochmad mengatakan, harga pupuk urea di pasaran yang sebelumnya sekitar Rp63 ribu per zak/50 kg kini menjadi Rp85 ribu per zak. "Kami sempat kaget harga pupuk naik, padahal hasil pertanian masih tetap harga yang dulu," katanya.

Berdasarkan SK Bupati Kotabaru tentang kebutuhan pupuk di Kotabaru 2010 terjadi kenaikan drastis dari tahun sebelumnya, hal itu terjadi seiring dengan bertambahnya jumlah petani dan luas areal pertanian di daerah itu. Pada 2009 kebutuhan pupuk urea 1.728,80 ton, SP-36 sebanyak 226,57 ton, NPK sebanyak 300,70 ton, Organik sebanyak 420,90 ton. Sedangkan 2010 kebutuhan pupuk diproyeksikan untuk urea 2.340 ton, SP-36 sebanyak 443 ton, NPK 1.665 ton dan organik sebanyak 421 ton. (Ant/OL-06)

Sumber : www.mediaindonesia.com
Continue Reading

e-Wallet via ATM Permata

| 0 comments

ALUR PEMBAYARAN VIA ATM DAN MESIN EMA :

  1. Pilih transaksi lainnya -> Pilih Pembayaran -> Pilih Pendidikan
  2. Masukan nomor pelanggan sbb :
Kode Institusi UNS + Kode Rekening UNS + Konversi huruf pada NIM + Nomor NIM.


Continue Reading

Study in Thailand

Saturday, July 3, 2010 | 0 comments

Go to Thailand


Thailand.....???
mengapa Agrotek kenal dengan Thailand...
emm,,,,tentu saja...

next lihat saja

Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Forum Mahasiswa Agroteknologi UNS - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
Selamat datang Di blog resmi Forum Mahasiswa Agroteknologi (FORMAT) Fakultas Pertanian - Universitas Sebelas Maret