Informasi Terbaru :

Karat Tumor

Monday, July 5, 2010 | 0 comments


Uromycladium tepperianum. Nama itu pertama kali kami dengar pada 2002, 6 bulan setelah Timor-Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi. Saat itu wartawan Anda, Onny Untung dan Karjono, diundang ke Timor Leste untuk meninjau perkebunan kopi dan vanili di sana. Kopi-kopi berumur tua dan sudah layak diremajakan itu sebagian besar tumbuh di bawah naungan sengon setinggi 1,5 kali pohon kelapa. Namun, sengon-sengon berbatang pokok sebesar perut kerbau itu sama sekali tidak rimbun. Daun meranggas lantaran serangan cendawan yang kelak diketahui bernama Uromycladium tepperianum.

sumber : www.trubus-online.co.id/
Continue Reading

Panen Gagal, Harga Sayur Melonjak

| 0 comments

KARANGANYAR—Harga sayur mayur di sejumlah pasar di Karanganyar mengalami lonjakan harga. Kenaikan harga seperti kubis dan wortel mengalami kenaikan disebabkan pasokan jenis sayur tersebut dari Tawangmangu yang minim karena gagal panen.

Salah satu pedagang di Pasar Jungke, Karanganyar, Tumini menyebutkan harga satu kilogram kubis yang semula seharga Rp 6.000, sejak satu pekan lalu mengalami kenaikan hingga seharga Rp 8.000, per kilogram. Sementara sayur wortel mengalami kenaikan dari semula per kilogram seharga Rp 4.000, melonjak menjadi Rp 6.000.

Menurut Tumini, kenaikan harga sayur wortel dan kubis ini dipicu karena gagal panennya sebagian besar petani sayuran tersebut di Tawangmangu. “Banyak sayuran kubis dan wortel di Tawangmangu yang membusuk akibat iklim yang sering hujan saat ini,” terangnya. Selain itu akibat kondisi iklim, menurut dia banyak tanaman tersebut tidak sempat berbunga lantas mati. Situasi ini akhirnya mengakibatkan pasokan kubis dan wortel dari Tawangmangu ke pasar-pasar di wilayah Karanganyar menjadi minim.

Pasokan kubis dari lain daerah seperti dari Kediri (Jawa Timur) pun tidak banyak membantu ketersediaan jenis sayuran itu. “Pasokan dari Kediri juga masih minim, sehingga harga tetap saja naik,” ujarnya. Sementara pedagang sayur yang lain, Tukiyem mengungkapkan selain harga wortel dan kubis yang mengalami lonjakan harga. Sayur lain seperti cabai dan bawang juga sudah mengalami kenaikan harga sejak dua pekan ini. Harga cabai merah satu kilogramnya sudah mencapai Rp 14.000, sedangkan cabai rawit sudah tembus harga Rp 40.000 per kilogram. Sedangkan harga bawang mengalami kenaikan dari semula satu kilogram hanya Rp 18.000, naik menjadi Rp 23.000,. “Kami hanya disetori dari Solo dan memang harganya sudah naik semua,” terangnya.

Akibat kenaikan harga ini, pedagang pun mengeluhkan berkurangnya jumlah pembelian sayur oleh para pembeli. “Ada yang datang mau beli kubis lima kilogram tetapi saat melihat harga sudah naik akhirnya hanya membeli satu kilogram saja,” tuturnya. Keluhan tersebut juga turut disampaikan salah satu pembeli sayur, Sukinem yang datang dari Suruh, Tasikmadu. (tam)

sumber : www.harianjoglosemar.com
Continue Reading

Bantuan Kurang, Petani Rebutan Pestisida

| 0 comments

WONOGIRI—Ratusan petani di Kecamatan Selogiri, Wonogiri yang berkumpul di sekitar lahan pertanian mereka, Selasa (29/6) kecewa. Pasalnya, bantuan pestisida yang dijanjikan oleh Dinas Pertanian (Dispertan) Wonogiri untuk melakukan semprot massal tidak cukup.

Ratusan petani yang sejak pukul 07.00 WIB berkumpul di pematang sawah di Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri sebenarnya sudah lengkap membawa tangki penyemprot. Namun karena tak juga mendapat jatah obat hama, akhirnya pulang dan tinggal puluhan orang yang bertahan.

Yanto (41), petani asal Krisak Kulon, Singodutan, Selogiri mengaku dia dan rekannya yang masih bertahan lantaran masih menunggu rekannya yang tengah menuju Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat.

“Kemarin (Senin (28/6)) kami diundang rapat ke kelurahan. Di sana katanya hari ini kami disuruh menyemprot massal. Ada bantuan obat hama dari Dispertan lewat BPP. Tapi ternyata sampai siang (pukul 09.30 WIB) baru 10 botol 500 mililiter yang ada. Ya jelas tidak cukup dibagi-bagi,” terangnya.

Beberapa petani yang meminta tambahan, ternyata hanya mendapatkan satu kardus isi 20 botol. Jumlah tersebut jelas kurang untuk ratusan petani dan luasan padi yang terserang hama wereng. Akhirnya, petani pun mengoplos pestisida dengan detergen, solar, atau minyak Srimpi yang biasa dipakai untuk parfum mayat,” ujarnya.
Eko Wahyu Priyono, petugas PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dari BPP Selogiri yang juga di lokasi mengatakan memang hanya sejumlah itu stok yang masih ada. Hingga kini sudah habis setengah miliar bantuan diberikan kepada petani.

“Sekitar 700 kuintal obat hama, baik cair dan bubuk. Tapi masih kurang. Tadi di kantor tinggal tiga terus diambil satu ini. Yang dua untuk wilayah lain,” jelasnya.

Alhasil, petani diminta untuk benar-benar memakai obat hama sesuai aturan. Bahkan obat jenis bubuk satu bungkus dipakai untuk lebih dari satu petani. Kemarin yang berupa bubuk tinggal satu bungkus yang tersedia.

Kepala Dinas Pertanian Wonogiri, Guruh Santoso mengatakan, memang persediaan bantuan pestisida sudah habis. Dan kini baru dimintakan bantuan dari pusat.

“Untuk bantuan yang kami mintakan dari provinsi masih belum mencukupi. Sekarang kami sudah mengajukan lagi. Begitu pun dari pusat. Surat ke pusat juga sudah kami kirim,” terangnya.

Ditambahkan Guruh, serangan wereng kini meluas hingga kecamatan lain. Di antaranya Kecamatan Ngadirojo, Girimarto, Sidoharjo dan Jatisrono. (son)

Sumber : www.harianjoglosemar.com
Continue Reading

Tinggalkan Hard Copy, ITB Menuju Green Office

| 0 comments

JAKARTA—Akhir-akhir ini, isu peduli lingkungan menjadi perhatian semua pihak. Aksi ini juga mewabah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satunya melalui gerakan menuju green office yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB .

Seperti dikutip dari situs ITB, Jakarta, Kamis (1/7), green office merupakan konsep kantor dengan pelaksanaan kegiatan secara ramah lingkungan guna mengurangi dampak pemanasan global. Salah satunya, dengan mereduksi penggunaan kertas untuk laporan berita penelitian, proposal dan jurnal. Saat ini, LPPM ITB berusaha agar laporan-laporan ilmiah itu diserahkan secara online.

Sekretaris Bidang Penelitian LPPM ITB, Ismunandar, menjabarkan, “Sebelumnya berita penelitian, prosal, dan laporan harus diserahkan dalam bentuk hard copy dan versi digitalnya dikumpulkan melalui CD. Tidak heran bila kita melihat tumpukan proposal dan CD di LPPM menggunung,” katanya.

Selain mengurangi penggunaan kertas, program ini juga memberikan dampak positif untuk data-data penelitian. Menurutnya, data-data yang akan diubah secara digital ini memudahkan banyak pihak untuk mengakses kembali ketika data tersebut dibutuhkan.

“Meski demikian, LPPM ITB masih menemui kendala yang berkaitan dengan surat-menyurat. Kami akan mulai menanyakan pada peneliti, apakah mereka lebih suka menerima dokumen dan pemberitahuan melalui email atau surat. Namun saya kira sekarang banyak yang lebih suka dihubungi melalui email sehingga bisa membantu reduksi kertas secara maksimal,” ujarnya.

Gerakan menuju kantor hijau juga dilakukan LPPM ITB melalui makanan. “Kami mengusahakan untuk tidak memesan makanan dengan wadah styrofoam karena tidak ramah lingkungan,” ujar salah seorang guru besar FMIPA ini.

Selain itu, ada juga program penghematan penggunaan energi di lingkungan LPPM ITB. Yang dilakukan di antaranya dengan memadamkan lampu di setiap ruangan yang tidak digunakan. (oke/dhi)

sumber : www.harianjoglosemar.com

Kapan Pertanian UNS....
Continue Reading

Sleman Hijaukan Lereng Merapi

| 0 comments

SLEMAN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, terus berupaya menjaga konservasi air di lereng Gunung Merapi dengan melakukan program penghijauan setiap tahun.

Kepala Bagian (Kabag) Humas Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sleman, Endah Sri Widiastuti, mengungkapkan, konservasi di lereng Gunung Merapi harus terus dijaga dan dipertahankan karena merupakan kawasan hulu dari Provinsi DIY, yang merupakan kawasan resapan air utama.

“Konservasi air di lereng Gunung Merapi menjadi tumpuan sumber air bersih bagi seluruh penduduk di wilayah Provinsi DIY, untuk itu, program penghijauan di kawasan lereng Gunung Merapi ini juga ditekankan pada generasi muda dan pelajar yang sekaligus sebagai media pendidikan tentang peduli lingkungan bagi generasi muda,” katanya.

Endah mengatakan, saat ini Kabupaten Sleman hanya memiliki kawasan hutan seluas 5.899 hektare yang sebagian besar (70 persen) di antaranya berada di kawasan lereng Gunung Merapi.

”Luas hutan tersebut apabila dibandingkan dengan luas Sleman hanya sekitar sembilan persen, padahal suatu daerah idealnya memerlukan wilayah hutan seluas 30 persen dari luas wilayahnya,” katanya.

Endah mengatakan, karena persentase tersebut maka Pemrintah Kabupaten Sleman berupaya menghijaukan kawasan lereng Gunung Merapi rata-rata 300 hektare setiap tahunnya.

sumber : www.harianjoglosemar.com
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Forum Mahasiswa Agroteknologi UNS - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger
Selamat datang Di blog resmi Forum Mahasiswa Agroteknologi (FORMAT) Fakultas Pertanian - Universitas Sebelas Maret